Sabar Nge Blog

Noda di Hari Raya

Posted in Umum by ujes23 on September 7, 2010

Oleh Ustadz Abu unais Ali Subana

Assalamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Alhamdulillah ,wassholatu wassalamu ala rosulillah amma ba`du.

Ikhwan sekalian yang berbahagia,saya ingin ceritakan kejadian yang saya alami pada tiap-tiap hari raya dan pada hari raya kali ini pun terjadi,dan sengaja saya kirim kepada mailing list agar kiranya dapat diambil fadahnya bagi pembaca sekalian dan semoga Allah memberi hidayahnya kepada kita sekalian, amin.

Siang itu setelah saya selesai memimpin sholat dzuhur,saya bertemu dengan beberapa pekerja Indonesia yang kebetulan sholat   bersama, lalu kami pun bertemu dan mereka mengucapkan pada saya “minal-aidin wal-faizin ,mohon ma`af lahir dan batin ” maka saya katakan pada mereka , “TAQABBALALLOHU MINNA WA MINKUM “ .

Lalu saya bertanya pada mereka , apa arti minal-aidin wal-faizin……? Mereka katakan, kami tidak tahu artinya kami hanya ikut-ikutan orang banyak. Lalu saya katakan artinya adalah ; “dari orang yang kembali dan mendapat kemenangan” lalu mereka bertanya pada saya, kembali itu maksudnya kembali dari mana ? dan kemenangan itu kemenangan apa ? lalu saya katakan : saya sendiri tidak tahu persis kembali yang dimaksud dan kemenangan itu, dan seharusnya kaum muslimin mencontoh apa yang diucapkan para shahabat nabi sallallohu alaihi wa sallam ,Alhafidz ibnu hajar dalam fathul-bari menulis : dari jubair bin nufair ia berkata : adalah para shahabat rosul sallallohu alaihi wasallam apabila bertemu pada hari raya ied mereka saling mengucapkan : “taqabbalallohu minna wa minka “.lalu al-hafidz berkata : sanad hadis ini HASAN.

Lalu seorang bertanya pada saya ; jika seorang mendapat ucapan itu ,apa jawabnya ? ..

Maka saya katakan ; jawab dengan yang sama ,karena para shahabat juga dalam riwayat itu “saling mengucapkan” hal ini sama dengan ucapan Assalamu `alaikum maka kita jawab wa`alaikumussalam. Lalu seorang bertanya ; ada yang menjawab dengan ;Taqabbal ya karim ,itu bagaimana ? saya katakan, karena itu adalah merupakan Do`a yang artinya :Semoga Allah kabulkan amal kami dan kamu, maka insya Allah tidak mengapa .perlu diketahui apabila kita ucapkan pada seseorang saja maka dengan kata wa minka dan jika banyak kita ucapkan waminkum.

Lalu setelah kita tahu ucapan yang sunnah adalah Taqabbalalloh minna wa minkum , bagaimana dengan ucapan minal-aidin……………….?  tanya mereka.

Lalu saya katakan ; apabila kita sudah mengetahui ucapan yang lebih baik maka amalkanlah yang lebih baik itu dan tinggalkan ucapan yang tidak ada atsarnya dari nabi atau para shahabat.

Lalu seorang bertanya lagi pada saya ; pak, sekarangkan  kita sudah fitrah atau suci lagi bahkan kata sorang penceramah   kita ini sudah seperti bayi yang baru lahir , lalu bagaimana menjaganya?

Saya menjawab : pertanyaan kamu itu bagus sekali namun sebelumnya saya beritahu bahwa Iedul-fitri adalah Ied artinya kembali dan Fitri artinya berbuka jadi iedul-fitri artinya :  kita kembali berbuka yang tadinya kita puasa sebulan penuh sekarang kita kembali berbuka lagi,makan dan minum lagi disiang hari seperti semula.adapun arti kembali suci itu sangat jauh dari kebenaran. Adapun tentang kita kembali seperti bayi lagi itu adalah berkenaan dengan haji yang mabrur sedang berkenaan dengan puasa adalah bahwa semua dosa-dosa yang telah lalu diampuni ,memang ma`nanya hampir sama akan tetapi dalam masalah keterangan ini kita harus cocokkan dengan keterangan yang datang dari nash-nash hadits agar kita terhindar dari berdusta atas nama Rosul sallallohu`alaihi wa sallam.adapun bagaimana kita mempertahankan kesucian kita adalah dengan cara melaksanakan segala perintah Allah ta`ala dan menjauhi segala laranganNya,menggapai segala pahalaNya dan membuang segala dosa yang ada pada diri kita.

Saya beri kalian contoh dosa yang banyak dilakukan kaum muslimin khususnya negri kita pada hari raya ini, yaitu bersalaman antara laki-laki dan wanita yang bukan mahromnya. mahrom kita adalah : istri kita, ibu kita,anak perempuan kita,saudara perempuan kita ,saudara perempuan ibu dan bapa kita.demikian juga nenek dari bapak dan ibu kita.jadi kita boleh bersalaman dengan ibu kita ,anak perempuan kita ,saudara perempuan kita ,yang mana mereka adalah mahrom kita dan kita tidak boleh bersalaman dengan wanita yang selain itu.kalian sekarang lihat banyak sekali bahkan sudah jadi tradisi mereka bersalaman dengan lain jenis.

Lalu mereka berkata:

  • wah pak ,kalo di kampong saya ,bersalaman tidak nempel bisa di musuhi masyarakat,
  • kalo di tempat saya bisa dibilang sombong dan sok suci
  • apalagi di tempat saya bisa diusir,karena di sangka aliran baru, sesat.

Dan banyak lagi komentar yang keluar dari mereka sampai ada yang berkata:

  • pumpung ada kesempatan, bisa pegang-pegang gratis,
  • apalagi kalo cewe itu cantik bisa dua atau tiga kali salamannya
  • hari yang lain belim tentu mau dipegang.

Lalu saya katakan : Innalillahi wa inna ilaihi roji`un.apakah kalian belum mendengar sabda nabi Sallallohu alaihi wasllam :

Pertama, beberapa riwayat dari ‘Aisyah r.a. yaitu:

Telah berkata ‘Aisyah:

Tidak pernah sekali-kali Rasulullah Saw menyentuh tangan seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. Bukhari dan Muslim ].

Telah berkata ‘Aisyah:

Tidak! Demi Allah, tidak pernah sekali-kali tangan Rasulullah Saw menyentuh tangan wanita (asing), hanya ia ambil bai’at mereka dengan perkataan.” [ HR. Bukhari dan Muslim].

Kedua, hadits-hadits yang menunjukkan larangan ‘menyentuh wanita’ serta hadits-hadits lain yang maknanya serupa. Misalnya hadits shahih yang berbunyi:

Ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” [ HR. ath-Thabrani].

Atau hadits yang berbunyi:

Lebih baik memegang bara api yang panas dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram.

Ketiga, juga di dasarkan pada sabda Rasulullah Saw yakni:

Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR. Malik, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i].

Lihatlah betapa nabi sallallohu alaihi wasallam telah melarangnya dengan larangan yang sangat keras .

karena itu jumhur ulama mengharamkannya dan merupakan dosa besar,dan agar kita terhindar dari perbuatan yang lebih bahaya lagi yaitu perzinahan dan karena itulah negri kita ditimpa banyak mushibah dan kalian malah menikmati dosa itu Wal-iyadzubillah.betapa senang dan gembiranya iblis dan para syetan-syetan itu pada perbuatan keji dan munkar yang kita lakukan.

Lalu mereka semua diam ….

Lalu saya katakan pada mereka: Astagfirulloh 3 kali,beristigfarlah kalian semoga Allah mema`afkan kalian karena ketidaktahuan kalian dan karena kalian hanya ikut-ikutan kebanyakan orang ,karena itulah Allah melarang kita ikut-ikutan tanpa dasar ilmu lihatlah firman Allah Ta`ala :

” Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”  (al-an`am :116)

Juga firman Allah Al-isra 36.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Inilah kebanyakan yang dikerjakan oleh muslimin Indonesia ,namun Al-hamdulillah sakarang ini sudah banyak sekali da`wah salaf yang mengajak manusia ke jalan Allah dan agar kita mengikuti al-quran dan sunnah sesuai dengan pemahaman para shahabat Rodiyallohu anhum jami`a.

Marilah kita benahi cara beragama islam kita, kita ukur kembali ,apakah telah sesuai dengan apa yang di gariskan Alqur`an dan sunnah dan apa yang di fahami oleh shahabat yang merupakan penerjemah keduanya dalam kehidupan sehari-hari sesudah wafatnya Rosul Sallallohu alaihi wasallam.

Allahummagfirlana dzunubana wa isrofana fi amrina wa tsabbit aqdamana wanshurna alalqumil-kafirin

Allahumma la tu`akhidzna bima fa`alas-sufaha u minna innaka antal-ghofururrohim ,

subhana robbika robbil-`izzati `amma yashifun wa salamun alal-mursalin walhamdulillahi robbil-alamin.

Wallaohu `alam bishshowab.

Subhanakallohumma wa bihamdika asyhadu anal ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaika.

Wassalamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Advertisements

Kedudukan Perempuan Dalam Pandangan Imam Ali as

Posted in Umum by ujes23 on September 2, 2010

Sumber : http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=628&Itemid=18

Meski perempuan pada dasarnya memiliki fisik yang lemah dan lembut, namun ia memiliki perasaan dan naluri yang kuat, yang diciptakan oleh Allah swt guna mengemban tugas pendidikan dan pengajaran masyarakat untuk menghantarkan umat manusia kepada kesempurnaan. Allah swt menciptakan perempuan, yang merupakan manifestasi keindahan Ilahi, yang juga tempat kaum lelaki memperoleh ketenangan dan ketentraman, dalam rangka menghiasi rumah dan keluarga dengan pancaran kasih sayang dan kelemah lembutannya. Imam Ali as berkata, “Perempuan adalah bagaikan sekuntum bunga yang menebar keharuman.”

Berdasarkan pernyataan Imam Ali as ini, perempuan seperti bunga yang harus dijaga dan dipelihara agar tetap segar dan dan bugar, sehingga lembaga keluarga akan terhias oleh keindahannya dan tersirami oleh kesegarannya. Oleh karena nilai dan posisi perempuan yang diberikan oleh Islam, maka banyak sekali perintah yang menekankan, pemuliaan, penghormatan dan kecintaan kepada perempuan. Agama Islam memberikan penghormatan kepada perempuan dari posisinya sebagai perempuan. Dalam masalah ini, Imam Ali as menukil dari Rasul Allah saaw, mengatakan, “Seseorang tidak akan menghormati kaum perempuan, kecuali jika orang tersebut berjiwa besar dan mulia. Dan seseorang tidak akan merendahkan kaum perempuan, kecuali jika orang itu berjiwa rendah dan hina.

Berkenaan dengan ibu, yang tak lain adalah perempuan, beliau berkata, “Betapa pun seorang anak berbakti kepada ibunya, ia tidak akan mampu menebus satu hari saja dari masa kehamilannya.”

Di tengah masyarakat Arab sebelum Islam, kaum lelaki sama sekali tidak menghargai kaum perempuan. Jika istri dari seorang suami melahirkan anak perempuan, maka sang suami akan menguburnya hidu-hidup. Akan tetapi, setelah munculnya Islam dan dengan perjuangan Rasul Allah saaw, terjadi perubahan besar berkenaan dengan posisi kaum perempuan, dan muncullah pandangan baru di tengah masyarakat, yang sangat menghormati dan memuliakan perempuan. Rasul Allah saaw sendiri selalu memberikan contoh nyata dengan perbuatan beliau, baik terhadap istri-istri beliau, terutama Sayidah Khadijah alaihassalam, terlebih lagi terhadap putri beliau Sayidah Fatimah alaihassalam.

Semua orang tahu bahwa Rasul Allah saaw sangat mencintai dan menghormati putri beliau ini. Setiap kali beliau tengah duduk di dalam rumah beliau, lalu Sayidah Fatimah datang, beliau berdiri, menyambut kedatangan sang putri, memeluk dan menciumnya, lalu beliau mempersilahkan Fatimah as untuk duduk di tempat duduk beliau, sementara beliau sendiri berpindah ke tempat duduk lain. Yang demikian ini juga dilakukan oleh Sayidah Fatimah as terhadap Ayahanda beliau. Pada dasarnya, penghormatan kepada kedudukan perempuan dapat disaksikan dengan jelas di dalam perilaku dan ucapan Ahlul Bait Rasul saaw. Imam ali as berkata, “Anak perempuan adalah kebaikan sedangkan anak lelaki merupakan nikmat. Kebaikan mendatangkan pahala, sedangkan nikmat mendatangkan hisab.” Maksudnya ialah bahwa seseorang yang mendapat nikmat akan dihisab dan dimintai pertanggung jawaban tentang nikmatnya itu. Di tempat lain, Imam Ali as berkata, “Seorang yang memiliki anak perempuan, maka pertolongan, berkah dan ampunan Allah akan meliputinya.”

Salah satu masalah yang menjadi perhatian para pembesar Islam ialah menghindarkan kaum perempuan dari berbagai ancaman dan gangguan jiwa dan jasmani. Di masa kita saat ini, ketidakperdulian terhadap masalah ini membuat sejumlah besar perempuan menjadi korban dekadensi moral dan penyimpangan seksual. Anthony Geadenz, seorang pakar sosiologi Barat, mengatakan bahwa pelecehan seksual terhadap perempuan adalah sebuah fenomena yang lumrah di Barat. Menurutnya, perilaku pelecehan terhadap perempuan, sudah sedemikianparahnya di dunia Barat, membuat kaum perempuan, terutama mereka yang bekerja di luar rumah, tidak lagi memiliki ketenangan hidup.

Berkenaan dengan aksi kekerasan terhadap kaum perempuan di AS, Yohan Readley, wartawan perempuan Inggris, mengatakan, “Setiap hari, sejumlah perempuan menjadi korban aksi kekerasan suami mereka, atau teman-teman mereka, dan tidak sedikit yang berakhir dengan kematian. Jumlah korban ini mengalami peningkatan setelah peristiwa 11 September. Di tengah masyarakat seperti AS, mungkin akan dianggap aneh, akan tetapi realitas mengatakan bahwa kaum perempuan selalu menjadi sasaran kekerasan, diseret kepada kerusakan moral, dan dipaksa untuk disalahgunakan dengan berbagai cara.

Imam Ali as menyinggung beberapa hal dalam rangka melindungi perempuan dari berbagai gangguan jasmani dan ruhani. Dalam pandangan beliau, perempuan dapat ikut aktif di tangah masyarakatnya, di dalam aktifitas ekonomi, politik dan sosial, dengan tetap mempertahankan kemuliaan dan kesuciannya, dan mencegah pelanggaran kaum lelaki terhadapnya. Imam Ali as menasehatkan kepada kaum perempuan, jika mereka hadir di tengah masyarakat dan lembaga-lembaga umum, hendaklah mereka tetap menjaga pakaian dan penampilannya sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian, maka dalam pergaulannya di tengah masyarakat luas, ia akan mendapat perlakuan yang baik dan terjaga dari hal-hal yang tak diinginkan.

Sifat pemalu dan kebersihan diri, meski baik dan perlu bagi setiap orang, akan tetapi ia lebih sesuai dan lebih tepat bagi perempuan. Untuk itu kita lihat bahwa Imam Ali as dalam salah satu khutbahnya dalam kitab Nahjul Balaghah mengatakan, “Pahala bagi seorang pejuang yang gugur syahid di atas jalan Allah tidak lebih besar daripada pahala seorang yang menjaga kebersihan dirinya dari dosa-dosa, padahal ia memiliki kemampuan untuk melakukan dosa-dosa tersebut. Seorang manusia yang bersih, adalah seorang malaikat dari malaikat-malaikat Allah swt.”

Dewasa ini, banyak sekali kaum perempuan, di berbagai belahan bumi, menghormati dan memuliakan kedudukan mulia manusia. Nadia, adalah seorang gadis sulung dari sebuah keluarga campuran Inggris – Asia, yang tengah belajar di fakultas kedokteran. Dia memilih busana muslimah sebagai pakaian sehari-harinya dan mengatakan, “Sebagai seorang perempuan, saya sangat menjaga perasaan malu dan kebersihan diri. Mengenakan hijab, membuat saya merasa terjaga dari berbagai ancaman yang saya hadapi di tengah masyarakat.” Dengan mantap dan tegas, Nadia mengatakan, “Saya merasa sangat bangga bahwa model kehidupan saya ialah Fatimah Az-Zahra alaihiassalam.”

Imam Ali as memandang tiga sifat: kewibawaan, kehati-hatian dan kecermatan, sebagai ciri-ciri penting perempuan muslimah. Dari ucapan beliau dapat disimpulkan bahwa dalam pergaulan di tengah masyarakat, seorang perempuan harus menjaga kewibawaan dan ketegasannya. Hal ini untuk menghindari kejahatan lelaki-lelaki yang berpenyakit di dalam hatinya. Demikian pula Imam Ali as menegaskan bahwa perempuan harus selalu bersikap hati-hati dan cerdas, sehingga akan menghindarkannya dari ketamakan dan penyalahgunaan kaum lelaki, dan agar masyarakat tidak memandangnya sebagai barang komoditi yang dapat dipermainkan sekehendak mereka.

Ciri-ciri lain seorang perempuan muslimah ialah perhitungan dan sikap cermat serta teliti, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ali as. Sikap seperti ini akan membuat seorang perempuan selalu cermat dan berhati-hati dalam membelanjakan uang dan kekayaan suaminya, serta menjaga kehormatan sang suami dalam masalah ini. Dengan demikian, jika seorang perempuan memiliki tiga sifat mulia tersebut, maka ia akan dapat berpartisipasi dalam pergaulan sosial, dengan partisipasi yang konstruktif, bahu-membahu dengan kaum lelaki.

===============================================

Dari Anas ra. Dari nabi Shalallaahu ‘alaihi wasallam Beliau bersabda :

“Siapa saja yang mengasuh dua anak perempuannya hingga dewasa, di hari kiamat aku bersama dua orang itu seperti dua jari ini.’ Beliau menempelkan dua jarinya (jari tengah dan telunjuk).”

(H.R Muslim) -Jariyataini yakni dua jariah artinya dua orang anak perempuan.

Dari Abu Harairah Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian mempunyai tiga orang anak gadis lalu ia sabar merawatnya dalam keadaan susah dan senang, maka Allah akan memasukkan dia sorga berkat kasih sayang orang itu kepada ketiganya”, lalu seseorang bertanya:”Bagaimana dengan dua wahai Rasulullah?”, beliau menjawab “Demikian juga dengan dua”, lalu orang itu bertanya lagi: “Bagaimana dengan satu wahai Rasulullah?” beliau menjawab “Demikian juga dengan satu” (H.R. Ahmad)

Dari Anas bin Malik, “Barangsiapa diantara kalian merawat dan mendidik mempunyai dua atau tiga anak perempuan saudari perempuan hingga mereka meninggal dunia atau dia meninggal dunia, maka aku dan dia (orang tersebut) seperti dua jari ini”, beliau menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah” (H.R. Ahmad)

Hadist Abu Said al-Khudri r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda “Barangsiapa diantara kalian merawat dan mendidik dua atau tiga orang anak perempuan lalu menikahkannya dan berbuat baik kepada mereka, niscaya akan masuk sorga” (H.R. ABu Dawud)

====================

Ketika Dua Negeri Berseteru

Posted in Umum by ujes23 on September 2, 2010

At Tauhid edisi V/46

Oleh: Yulian Purnama

Sedih rasanya melihat dua bangsa berseteru, saling membanggakan diri dan mencaci yang lain, bahkan ada yang menyuarakan peperangan, padahal keduanya adalah negeri kaum muslimin. Lebih miris lagi, perseteruan ini didasari oleh hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika demikian adanya, bagaimana mungkin umat Islam menjadi kuat dan kokoh?

Konsep Cinta dan Benci Dalam Islam

Dalam Islam dikenal konsep Wala wal Bara’ (cinta dan benci) yang merupakan konsekuensi dari iman yang benar. Inti ajaran Islam adalah mengajak ummat manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Konsekuensinya, seorang mukmin akan mencintai segala bentuk peribadatan dan ketaatan kepada Allah semata dan mencintai orang-orang yang melakukan demikian.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam juga bersabda: “Orang yang mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, memberi karena Allah, melarang sesuatu karena Allah, imannya telah sempurna” (HR. Abu Daud no. 4681, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Konsekuensi lain adalah kebalikan dari itu, seorang mukmin akan membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah dan maksiat, serta membenci orang-orang yang melakukan demikian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)

Ringkasnya, seorang mukmin sejati mencintai orang-orang yang menyembah Allah Ta’ala semata dan melakukan ketaatan kepada-Nya, baik ia berbeda suku, berbeda negara, berbeda warna kulit, berbeda bahasa, berbeda martabat. Dan seorang mukmin dalam hatinya memiliki rasa benci kepada orang yang menyembah kepada selain Allah dan membenci orang yang banyak melakukan maksiat, meskipun ia satu negara, meskipun ia satu bahasa, sama warna kulitnya, meskipun ia teman sepermainan, meskipun ia adalah orang tuanya, anaknya,atau keluarganya. Inilah konsep cinta dan benci dalam Islam.

Cinta dan Benci Orang Jahiliyah

Masa Jahiliyyah adalah masa sebelum di utusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Dan pada saat itu dunia diliputi kebodohan terhadap agama, kesesatan, penyimpangan dan kemusyrikan (Lihat Syarh Masa’il Jahiliyyah (8), Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan). Oleh karena itu Allah Ta’ala banyak mencap buruk orang-orang pada masa Jahiliyyah dalam Al Qur’an Al Karim. Misalnya firman Allah Ta’ala (yang artinya): “(Wahai kaum wanita), hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana orang-orang Jahiliyah yang terdahulu” (QS. Al Ahdzab: 33). Sehingga Islam melarang ummat-Nya berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang Jahiliyyah secara umum.

Lalu bagaimanakah konsep cinta dan benci yang diterapkan orang-orang Jahiliyyah? Cinta dan benci mereka dibangun atas dasar kesamaan suku dan bangsa. Ketika dua suku berseteru, mereka membenci orang-orang yang masih satu suku bangsa dan membenci orang-orang yang berbeda suku bangsa. Sebagaimana diceritakan sebuah hadits:

Suatu ketika di Gaza, (dalam sebuah pasukan) ada seorang dari suku Muhajirin mendorong seorang lelaki dari suku Anshar. Orang Anshar tadi pun berteriak: ‘Wahai orang Anshar (ayo berpihak padaku)’. Orang Muhajirin tersebut pun berteriak: ‘Wahai orang Muhajirin (ayo berpihak padaku)’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mendengar kejadian tersebut, beliau bersabda: ‘Pada diri kalian masih terdapat seruan-seruan Jahiliyyah’. Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah mendorong seorang dari suku Anshar’. Beliau bersabda: ‘Tinggalkan sikap yang demikian, karena yang demikian adalah perbuatan busuk’ ” (HR. Al Bukhari no.4905)

Perhatikan dengan baik hadits yang mulia ini. Muhajirin dan Anshar adalah dua kaum yang mulia yang dipuji oleh Allah Ta’ala. Namun tatkala mereka menyerukan fanatisme kesukuan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyatakan bahwa sikap tersebut adalah perangai Jahiliyah, bahkan beliau melaknat perbuatan tersebut. Bagaimana lagi dengan kita?

Jangan Berpecah Belah

Perpecahan umat Islam adalah sesuatu yang tercela dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS. Al Imran: 104). Dan sebaliknya, Islam memerintahkan ummat-Nya untuk bersatu-padu. Dan perintah untuk bersatu ini ditujukan kepada setiap Muslim di seluruh dunia, tidak hanya antar ummat Muslim di satu negara saja. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Al Imran: 102-103)

Dalam ayat di atas, jelas sekali bahwa perintah untuk bersatu ditujukan untuk setiap Muslim, bukan hanya muslim yang sebangsa saja. Oleh karena itu, perselisihan antar umat Islam baik yang satu negara ataupun berbeda negara adalah sumber kebinasaan. Maka bersatulah wahai kaum muslimin di negara manapun engkau berada!

Muslim Itu Bersaudara

Seorang muslim mempersembahkan cintanya yang paling besar dan yang paling tulus kepada Allah Ta’ala. Cinta ini tidak boleh pupus oleh cinta lain. Cinta kepada Allah tidak boleh ditenggelamkan oleh cinta seseorang kepada keluarganya, bahkan kepada kedua orang tuanya. Konsekuensinya, siapapun yang mencintai Allah Ta’ala, berhak untuk kita cintai. Sebaliknya, siapapun yang mendurhakai Allah Ta’ala, layak untuk kita benci. Rasa cinta kepada Allah inilah yang mengikat setiap muslim dalam lingkar persaudaraan yang mulia. Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu” (QS. Al Hujurat: 10). Oleh karena itu, wahai kaum muslimin, berbuat baiklah kepada sesama muslim layaknya saudara!

Apakah seseorang akan membenci saudaranya? Apakah ia akan menjauhi saudaranya? Apakah ia akan menghina saudaranya? Apakah ia akan menzhalimi saudaranya? Sama sekali tidak. Maka demikianlah sepatutnya seorang muslim.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jangan kalian saling hasad, jangan saling mencurangi, jangan saling membenci, jangan saling menjauhi, jangan kalian menawar barang yang sedang ditawar orang lain. Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh membohonginya dan tidak boleh menghinanya” (HR. Muslim no.2564)

Berlombalah dalam Kebaikan, bukan Dalam Maksiat

Miris rasanya melihat umat muslim berselisih, bertengkar dan berseteru disebabkan rasa iri dan dengki dalam kemaksiatan. Mereka membangga-banggakan diri atas perkara maksiat dan saling dengki satu sama lain.

Contohnya, mereka berseteru karena musik. Padahal Allah Ta’ala tidak ridha terhadap hal tersebut. Allah berfirman: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan lahwal hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah” (QS. Luqman: 6) Sebagian ahli tafsir, juga sahabat yang mulia, Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu menjelaskan bahwa yang dimaksud lahwal hadits di dalam ayat ini adalah nyanyian. Rasul kita Shallallahu’alaihi Wasallam juga pernah bersabda, “Akan ada beberapa kaum dari ummatku yang menghalalkan zina dan sutra, serta khamr dan alat musik” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan lafazh jazm/tegas . Al Imam Ibnul Qayyim telah membantah anggapan yang mengatakan bahwa hadits ini dhaif. Hadits di atas dinilai sahih oleh banyak ulama, di antaranya: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Istiqomah (1/294) dan Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1/259). Penilaian senada disampaikan An Nawawi, Ibnu Rajab Al Hambali, Ibnu Hajar dan Asy Syaukani –rahimahumullah-)

Hadits ini jelas menunjukkan keharaman musik. Dan Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam tidak ridha terhadapnya. Jika Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tidak ridha, mengapa kita malah mencintainya? Dan malah berbangga-bangga dengannya? Dan menjadikannya bahan perseteruan?

Tarian yang dilakukan para wanita dengan memamerkan aurat mereka, kemudian berlenggak-lenggok gemulai di depan orang banyak, sungguh mereka telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Namun hal ini malah dijadikan kebanggaan dan menjadi sebab pertikaian!? Padahal Rasul kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ada dua jenis manusia penghuni neraka yang aku belum pernah melihat sebelumnya. Yang pertama yaitu orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka mencambuki orang lain. Yang kedua yaitu wanita yang berpakaian namun sebenarnya telanjang, mereka berjalan berlenggak-lenggok. Kepala mereka seperti punuk unta yang bergoyang. Mereka tidak masuk surga, bahkan tidak mencium wanginya surga. Padahal wanginya surga dapat tercium dari jarah yang sangat jauh” (HR. Muslim no. 2128)

Wahai kaum muslimin, buktikan cintamu kepada Allah. Berhentilah berbangga dan berlomba dalam hal yang tidak diridhai Allah Ta’ala! Berlombalah dalam kebaikan dan ketaqwaan! Bukankah anda pernah mendengar firman Allah Ta’ala: “Sungguh, yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa” (QS. Al Hujurat: 13)

Maka irilah kepada saudaramu yang hafal Al Qur’an, irilah kepada saudaramu yang paham ilmu agama, irilah pada saudaramu yang giat beribadah, irilah pada saudaramu yang zuhud dan qanaah. Berusahalah menandingi mereka dalam hal tersebut. Irilah jika ada negeri lain yang masyarakatnya lebih shalih, dan berusahalah menjadikan negeri kita ini lebih shalih dari negeri tersebut.

Benarkah Nasionalisme Bagian Dari Iman?

Pada sebuah kesempatan, Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Uqail rahimahullah, seorang ulama besar dari Unaizah, ditanya: “Bagaimana dengan ungkapan yang banyak tersebar di masyarakat, yaitu: “Cinta tanah air (wathon) adalah bagian dari iman”. Apakah ungkapan ini adalah sebuah hadits yang shahih?”

Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Uqail rahimahullah, menjawab: “Menurutku, andaikan hadits ini shahih, bisa dibenarkan jika wathon kita artikan sebagai:

  1. Surga, karena surga adalah negeri pertama bagi keturunan Adam ‘Alaihissalam
  2. Mekkah, karena Mekkah adalah Ummul Quraa (Ibu kota dari semua kota) dan kiblatnya orang alim
  3. Negeri yang baik, namun dengan syarat cinta kepada negeri dikarenakan adanya itikad untuk menyambung silaturahim, atau berbuat baik kepada penduduk negeri tersebut, misalnya kepada orang fakir dan anak yatim (bukan karena semangat nasionalisme, pent) [Demikian penjelasan Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Uqail, dikutip dari Mauqi’ Al Islam]

Ulama pakar hadits abad ini, Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata: “Hadits ini adalah hadits palsu. As Shaghani dan ulama yang lain berkata: ‘Makna hadits ini tidak benar. Karena kecintaan kepada tanah air seperti mencintai diri sendiri, mencintai harta, dan semacamnya. Ini semua merupakan sifat-sifat manusiawi. Sehingga seseorang yang mencintai hal-hal tersebut tidak serta-merta dipuji. Oleh karena itu mencintai tanah air bukan bagian dari iman. Bukankah anda melihat bahwa semua manusia memiliki sifat ini? Baik yang mu’min maupun yang kafir tanpa terkecuali.’ (Silsilah Ahadits Adh Dhaifah, 36)

Nasionalisme yang Dibenarkan Islam

Berbicara tentang cinta tanah air, memang benar bahwa mencintai tanah kelahiran adalah hal yang manusiawi. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mencintai tempat kelahiran beliau, Makkah. Sampai-sampai beliau bersabda, “Wahai Makkah, tidak ada negeri yang lebih baik dan lebih kucintai dari pada engkau. Andai kaumku tidak mengusirku darimu, aku tidak akan pernah tinggal di negeri lain” (HR. At Tirmidzi no.3926, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

Namun beliau mencintai Makkah bukan karena semata-mata tempat kelahiran, namun karena Makkah adalah negeri kaum muslimin, negeri tauhid yang diwariskan Ibrahim ‘Alahissalam. Oleh karena itu beliau pun mencintai Madinah, yang juga negeri kaum muslimin, walaupun bukan tempat kelahiran beliau. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika peristiwa hijrah ke Madinah, “Ya Allah, berikanlah kami rasa cinta terhadap Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, atau bahkan cinta yang lebih besar dari itu” (HR. Bukhari no.6372)

Maka nasionalisme yang benar adalah nasionalisme yang didasari rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Yaitu mencintai negeri tempat kelahiran kita yang merupakan negeri kaum muslimin, karena Islam ditegakkan di dalamnya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: “Tanah air dicintai jika ia merupakan negeri kaum muslimin. Setiap orang wajib bersemangat untuk berbuat kebaikan di negerinya, juga di negeri lain yang merupakan negeri kaum muslimin. Setiap orang juga wajib mengusahakan keluarga dan kerabatnya tinggal di negeri kaum muslimin” (Fatawa Wal Maqalat Mutanawwi’ah, Juz 9, http://www.binbaz.org.sa/mat/2078 )

Selain itu, sebagaimana dijelaskan Syaikh Al Uqail, semangat cinta tanah air dapat dibenarkan jika diniatkan dalam rangka ingin berbuat baik kepada masyarakatnya. Dengan kata lain, ia mencintai negerinya karena orang-orang yang ia sayangi berada di negeri tersebut, dan ia ingin berbuat baik kepada mereka. Karena memang Islam mengajarkan untuk mendahulukan orang-orang terdekat dalam berbuat kebaikan. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At Tahrim: 5)

Allah Ta’ala juga berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat….” (QS. An Nisa: 36)

Oleh karena itu, kami mengajak kaum muslimin sekalian untuk meninggalkan semangat nasionalisme Jahiliyyah dan beralih kepada semangat nasionalisme di dasari rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Hentikan pertikaian antara saudara seiman! Kemudian mari kita bersama membangun negeri kita ini dalam setiap aspek kehidupan, sehingga kaum muslimin kuat dan kokoh. Mari kita dukung program-program pemerintah yang sejalan dengan nilai-nilai Islami, dan mari unggulkan negeri kita ini dalam hal kebaikan dan ketaqwaan.

Mudah-mudahan Allah menjadikan negeri kita ini menjadi negeri yang diridhaiNya, semoga pada negeri ini diturunkan rahmah serta keberkahan Allah di dalamnya. Dan semoga Allah menjadikan penduduknya menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah serta bersatu-padu menjalin persaudaraan yang kuat dan kokoh karena-Nya. Wallahul musta’an. [Yulian Purnama]

Bahayanya Jika Menahan Bersin

Posted in Umum by ujes23 on September 2, 2010

Jakarta, Jika keinginan bersin terjadi saat sedang terlibat perbincangan serius, pertemuan penting atau berada di ruang yang sepi, orang lebih suka untuk menahannya. Sebaiknya jangan menahan bersin karena bisa berbahaya.

Beberapa orang mencoba menahan bersin dengan cara menekan hidung mereka sehingga keinginan untuk bersin menjadi hilang. Ternyata menahan bersin justru bisa menjadi masalah yang serius jika sering dilakukan.

Kecepatan bersin yang dimiliki manusia adalah 161 km/jam, sehingga jika seseorang menahan untuk bersin maka tubuh harus menahan kecepatan tersebut secara tiba-tiba. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi fungsi tubuh dan menyebabkan kuman yang seharusnya dikeluarkan malah masuk kembali.

“Bersin merupakan kegiatan yang positif karena memiliki fungsi membersihkan faring (rongga antara hidung, mulut dan tenggorakan) dan ini adalah hal yang baik, sedangkan menahan bersih justru berbahaya karena bisa menimbulkan beberapa risiko,’ ujar Dr Michael Roizen, kepala Wellness Officer Clevelend Clinics, seperti dikutip dari Doctoroz.com, Senin (8/3/2010).

Roizen mengungkapkan ada beberapa bahaya yang bisa ditimbulkan jika seseorang menahan bersin yaitu:

  1. Menyebabkan patah tulang di tulang rawan hidung
  2. Mimisan
  3. Pecah gendang telinga
  4. Gangguan pendengaran
  5. Vertigo
  6. Retina yang terlepas atau mengalami emfisema. Hal ini karena tubuh berusaha menahan kecepatan dari bersin yang tinggi. Cedera yang timbul umumnya mempengaruhi struktur bagian dalam kepala.

Emfisema adalah suatu kondisi yang bisa menyerang anak-anak ataupun orang dewasa, kondisi ini sangat berbahaya dan berpotensi mematikan karena dapat membatasi pasokan udara. Tanda-tanda yang muncul biasanya wajah atau leher yang membengkak dan timbul rasa ketidaknyamanan.

“Untuk membantu seseorang agar mudah bersin bisa dengan cara melihat cahaya terang, hal ini dapat merangsang saraf optik yang melintasi jalur pusat bersin. Selain itu iritasi yang terjadi di saraf dekat pusat bersin juga bisa memicu seseorang untuk bersin,” tambahnya.

Saat seseorang bersin biasanya diikuti oleh keluarnya bakteri atau kuman dari dalam tubuh. Hal ini berguna untuk menjaga hidung agar tetap bersih, karenanya seringkali bersin terjadi secara berulang-ulang.

Jadi jangan pernah menahan bersin untuk menghindari beberapa risiko tersebut. Tapi jangan lupa untuk menutup mulut dan hidung dengan tangan, tisu, sapu tangan atau lekukan lengan saat bersin, agar bakteri dan kuman yang keluar tidak membahayakan orang lain.

http://health.detik.com/read/2010/03/08/173020/1313858/766/bahayanya-jika-menahan-bersin

Pandangan Islam terhadap Kedudukan wanita 2

Posted in Umum by ujes23 on September 1, 2010

Tulisan ini saya sarikan dari tulisan DR. Zahra’ Mushthafawi (puteri Imam Khumaini ra). Dalam tulisannya ia memapaparkan pandangan Imam Khumaini (ra) terhadap kedudukan wanita.

Untuk membicarakan topik ini, kita harus mengetahui dua persoalan yang amat penting, yaitu:

Pertama:
sebagai dasar argumen saya harus menjelaskan dengan penjelasan yang sebenarnya bahwa Islam dan Imam Khumaini (ra) tidak pernah menyebut wanita sebagai makhluk yang berbeda dengan laki-kali dari sisi: penciptaan, ketaatan, ibadah, siksa dan pahala. Bahkan begitu hormatnya Imam Khumaini (ra) terhadap hak-hak wanita, beliau sering menegaskan persoalan-persoalan wanita dalam acara-acara dan hari-hari yang khusus bagi wanita. Tujuannya jelas adalah untuk memberikan nilai dan kedudukan yang mulia bagi wanita.

Kedua:
Dalam sebagian pembahasan dan kajian tentang hak dan hakikat wanita sering dijumpai banyak kelemahan dan kekurangan. Ini jelas disebabkan oleh pandangan dan pemikiran yang salah tentang hakikat wanita. Karena itu untuk membahas tentang makhluk yang mulia ini dan kedudukannya yang sejati di tengah-tengah masyarakat, dari sudut pandang Islam, membutuhkan kajian yang cukup mendalam dan mendasar.

Pandangan terhadap kesejatian wanita bergantung pada pandangan kita
terhadap keterciptaan alam. Pendangan terhadap wanita bermacam-macam: Dunia barat dengan kapitalisme punya pandangan tersendiri, dunia timur dengan sosialisme juga punya pandangan tersendiri. Kedua pandangan ini tujuannya sama, yang berbeda hanya cara mencapainya. Yang satu bersifat individual, dan yang lain bersifat kolektif. Keduanya bertujuan pada materi.

Kami memandang bahwa pembahasan ini tak akan membuahkan hasil selama pandangan kita belum ada perubahan terhadap tujuan penciptaan alam, dan pandangan terhadap kesejatian kedudukan wanita.

Sungguh sekarang sudah saatnya kaum wanita muslimah menuntut kesejatian haknya yang telah lama dibelenggu, dirampas dan dihinakan.

Kaum wanita muslimah harus benar2 memiliki kemampuan untuk memahami pemikiran yang menyimpang, baik dari barat maupun timur, atau yang mengatasnamakan Islam. Karena akibat dari pemikiran inilah peradaban manusia telah dihancurkan.

Kita harus mengenal bahwa wanita adalah makhluk Allah swt yang punya kemampuan untuk mencapai derajat  manusia yang mulia. Pandangan dan pemikirannya dapat menyinari sejarah manusia, revolusi, dan kebangkitan melalui sinar cahayanya yang khas.

Kita harus menyadari bahwa kezaliman dan pribadi-pribadi yang hina, mereka akan  memadamkan cahaya kaum wanita, dan hanya memanfaatkan tubuh dan bilogisnya. Orang-orang jahiliyah di zaman dahulu mengubur tubuh wanita hidup-hidup. Tapi jahiliyah di abad modern mengubur pribadi dan spiritual kaum wanita muslimah. Imam Ali bin Abi Thalib (as) pernah berkata: “Aku heran terhadap orang yang mencari barangnya yang hilang, tetapi tak pernah mau mencari dirinya.”

Imam Khumaini (ra) berkata: “Awal perjalanan spiritual adalah kebangkitan”. Khawwajah Al-Anshari (ra) mengatakan: “Awal perjalanan spiritual adalah kebangkitan dan penjagaan kesucian diri.

Kaum wanita harus bangkit. Allah swt menyerukan kita: “Hendaknya kamu bangkit.” (Saba’: 46). Ayat ini menyerukan pada kesadaran, dan kesadaran merupakan bagian dari kebangkitan. Yakni kesadaran dari kelalaian yang harus diikuti oleh kebangkitan.

Sekarang ini kita sedang berada dalam kondisi yang mabuk dan lalai akibat watak hewani yang dibelenggu oleh syahwati. Watak yang membius seluruh orgam tubuh kita, lalu kita mendengar panggilan Ilahi yang menyerukan kita harus bangkit dari tidur panjangnya.

Dengan adanya kaidah: “kenalilah sesuatu melalui lawannya”. Ini mengharuskan kita mengenal: Mengapa terjadi kelalaian terhadap Yang Maha Suci? Dan Zat Yang Maha Suci hadir tanpa suatu undangan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari simak pernyataan Imam Khumaini (ra): “Kebiasaan yang menyimpang adalah kegelapan, dan akhlak yang hina adalah kabut yang menghitam. Cahayanya adalah seruan Allah swt, dan Islam yang membimbing kita kepada-Nya. Bergegaslah beramal dengan hukum-hukum Islam dan tolaklah selain itu.”

Memang watak buruk dapat merubah kehidupan manusia. Manusia manjadi tidak mengenal dirinya dan asing dari dirinya sendiri. Inilah yang terjadi saat nilai-nilai kesejatian Islam dan manusia telah padam. Akhlak yang mulia menjadi rusak dan hina, manusia dikuasi amarah dan syahwat hewaninya.

Orang-orang yang dekat dengan penguasa yang zalim akan memamfaatkan kesempatan ini, membuat perangkap-perangkap dan langkah-langkah untuk menjerumuskan manusia khususnya wanita ke lembah kehinaan dan kehancuran. Langkah-langkah keji ini akan memadamkan api spiritual manusia khususnya wanita. Mereka menyebarkan perangkap perangkap itu di tengah-tengah masyarakat, lalu menggiring kaum wanita pada jurang kehinaan.

Agar kaum wanita tidak terjebak oleh pemikiran yang hina yang nampaknya Islami tapi sebenarnya tidak, mari kita simak pernyataan Imam Khumaini (ra) yang beliau sampaikan pada Hari Wanita thn 1980:

“Fatimah Az-Zahra’ adalah sosok wanita yang memiliki keutamaan keutamaan yang tidak kurang dari keutamaan-keutamaan Nabi saw dan Ahlul bait (as) yang suci dan makshum. Kita harus memfokuskan pandangan kita pada keutamaan-keutamaan wanita. Tulisan-tulisan yang penuh racun, narasi-narasi bayaran dan kebodohan telah tersebar di celah-celah 50 tahun yang lalu pada masa Pahlavi. Sehingga ia menjadikan kaum wanita sebagai barang dagangan.”

Dari paparan DR. Zahra’ Mushthafawi, dapatkan kita simpulkan:

1. Kaum wanita memiliki kedudukan yang mulia di tengah2 masyarakat
2. Kaum wanita mampu mencapai prestasi sebagaimana dicapai oleh kaum laki-laki.
3. Kaum wanita dapat menduduki kedudukan yang mulia bukan hanya laki-laki.
4. Kaum laki-laki tidak boleh merendahkan martabat wanita.
5. Kaum laki-laki tidak boleh memadamkan cahaya spiritual kaum wanita
6. Kaum laki-laki jangan menganggap wanita sebagai barang dagangan yang bisa ditukar dengan materi dan uang.
7. Perdagangan itu memang ada dua macam: ada yang halal dan ada yang haram. Kedua2nya tak boleh dijadikan sarana utk merendahkan dan menghinakan martabat wanita.
8. Kaum laki-laki jangan hanya memanfaat kaum wanita untuk kepuasaan syahwat hewaninya, dengan menggunakan legalitas syariat lalu membelenggu potensi mereka. Syariat turun bukan untuk itu. Jika syariat ditegakkan tanpa memperdulikan (dipisahkan dari) akidah dan akhlak bukan cahanya yang akan didapatkannya, tetapi kegelapan dan kehinaan yang akan dimasukinya.
9. Kaum laki-laki harus menghormati kedudukan mulia kaum wanita. Karena secara potensi laki-laki dan wanita sama, bisa mencapai kedudukan dan prestasi yang mulia.

Tulisan disarikan dari tulisan DR. Zahra’ Mushthafawi puteri Imam
Khumaini (ra).

Rahasia di Balik Sakit

Posted in Umum by ujes23 on September 1, 2010

Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35). Sahabat Ibnu ‘Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur’an- menafsirkan ayat ini: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir). Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.

Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Sakit akan menghapuskan dosa

Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)

Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya

Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)

Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah

Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)

Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin.

***

Penulis: Abu Hasan Putra
Artikel www.muslim.or.id

Ilmu Ghaib Hanya Milik Alloh SWT

Posted in Umum by ujes23 on September 1, 2010

Ditulis oleh Abu Ja’far Al Atsary

Definisi Ghaib

Ar-Raghib Al-Asfahany berkata:”Apa saja yang lepas dari (jangkauan) indra dan pengetahuan manusia adalah ghaib.”

Al-Baji berkata:”Ghaib adalah apa yang tidak ada dan apa yang tidak tampak oleh manusia.”

Hanya Alloh yang Mengetahui

Ilmu ghaib adalah khusus milik Alloh. Cukup banyak ayat-ayat dan hadits yang mengatakan tentang hal tersebut. Di dalam surat Al-An’am ayat 59, Alloh berfirman:

” Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

Rasul ShallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” Kunci-kunci ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya selain Alloh. Sesungguhnya di sisi Alloh terdapat ilmu tentang kiamat, Dia menurunkan hujan, dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Tidak ada jiwa (manusia) yang mengetahui apa yang bakal ia peroleh (alami) besok. Dan tidak ada jiwa yang mengetahui di negeri mana ia akan mati. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui dan Maha Teliti. ” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad dari Ibnu Umar, lafazhnya Ahmad)

Aisyah berkata: “Barangsiapa menyangka bahwa Rasulullah ShallAllohu ‘alaihi wa sallam bisa memberi tahu apa yang bakal terjadi besok pagi, maka ia benar-benar telah berdusta besar kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala karena Alloh telah berfirman: “Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Alloh.” (An-Naml : 65)

Hukum Menyandarkan Ilmu Ghaib Kepada Makhluk

Siapa yang mengklaim bahwa dirinya mengetahui salah satu dari kunci-kunci ghaib, maka ia kafir. Siapa yang mengatakan; “Besok pasti hujan,” ia adalah kafir, kecuali jika ia tidak memastikan dan mengandalkan kepada ilmu pengetahuan alam yang didasarkan kepada eksperimen atau hukum kebiasaan, maka ia tidak kafir. Seperti juga mengabarkan akan adanya gerhana berdasarkan ilmu hisab atau ilmu falak.

Ibnul Haj menukil kesepakatan ulama atas kafirnya orang yang mengatakan bahwa para wali mengetahui apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat nanti.

Bid’ah Rafidhah dan Shufiyah

Imam Ibnu Qutaibah, penyambung lidah Ahlus Sunnah pada abad ketiga, telah menjelaskan kebid’ahan dan kekufuran orang yang menyandarkan ilmu ghaib kepada makhluk. Dalam risalah Al-Ikhtilaf fil Lafzhi , beliau berkata: “Rafidhah (syi’ah) telah keterlaluan di dalam mencintai Ali RadhiAllohu anhu, mereka mengunggulkannya melebihi orang yang diunggulkan oleh Rasulullah ShallAllohu ‘alaihi wa sallam dan oleh seluruh sahabatnya (termasuk oleh Ali RadhiAllohu anhu sendiri). Mereka mengklaim bahwa Ali derajatnya sejajar dengan Nabi ShallAllohu ‘alaihi wa sallam dalam kenabian. Mereka menganggap bahwa para imam dari anak-anaknya memiliki ilmu ghaib.” Ucapan tersebut disamping dusta dan kufur adalah kebodohan yang terlalu.

Kemudian bid’ah syi’ah ini menyebar ke kalangan shufiyah (orang tasawuf) karena eratnya hubungan dua kelompok tersebut, sehingga kita dapati orang-orang shufi meyakini bahwa termasuk karamah para wali adalah melihat Lauhul Mahfuzh dan membaca isinya. Sampai Asy-Sya’rani (tokoh shufi) mengatakan bahwa Muhyiddin Ibnu Arabiy (pelopor faham menyimpang yang disebut “wihdatul wujud” , yakni bersatunya Alloh dengan alam/makhluq) diberi tahu oleh Alloh perbedaan antara apa yang ditulis di Lauhul Mahfuzh dengan tulisan para makhluk. Dan Abdul Karim Al-Jiliy mengklaim bahwa dirinya telah dimi’rajkan dan berkumpul dengan seluruh para Nabi, wali dan malaikat dari berbagai macamnya dan dibukakan untuknya tabir ghaib sehingga mengetahui hakikat segala sesuatu dari sejak azal sampai kepada jaman yang tak bertepi. Sampai Yusuf An-Nabhani mengatakan: “Lauhul Mahfuzh adalah hati seorang arif, artinya hati orang yang ma’rifat itu bagaikan kaca cermin yang dihadapkan kepada Lauhul Mahfuzh, apa yang tertulis di Lauhul Mahfuzh bisa terekam di hati seorang arif.”

Hanya Para Rasul yang Diberi Tahu

Alloh berfirman dalam surat Al-Jin ayat 26-27:
“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihat-kan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridlai-Nya.”

Orang-orang shufi demi mengesahkan kebid’ahannya, mereka berani menambah ayat (dalam tafsirnya), mereka mengatakan:
“Kecuali kepada rasul (yang diridhai-Nya) dan wali.”

Mengetahui perkara ghaib melalui jalan “Ithla’” khusus untuk para rasul Alloh Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan firman Alloh: “Dan Alloh sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu ( hai orang-orang mukmin orang-orang mukmin) hal-hal yang ghaib, akan tetapi Alloh memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. ” (Ali Imran : 179)

Ilham, Firasat dan Mimpi Para Wali

Ilham dan mimpi para nabi adalah haq dan ma’shum (terjaga dari kesalahan), pasti benar. Hal tersebut adalah termasuk ilmu ghaib yang diberitahukan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka.

Berbeda dengan para wali, ilham dan mimpi mereka tidak mutlak benar, tidak ma’shum, maka tidak disebut “ilmu ghaib” selama belum terbukti. Dan ketika terjadi hilanglah hukum ghaib darinya. Mimpi para wali yang kedudukannya lebih tinggi daripada ilham dan firasat itu ternyata dijadikan oleh Rasulullah ShallAllohu ‘alaihi wa sallam sebagai satu bagian yang lemah dan kecil dari kenabian, hanya satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.

Adalah sebuah kesalahan jika yang bukan ma’shum disejajarkan dan disandingkan dengan para nabi yang ma’shum. Begitu pula jika menyamakan yang pasti benar dengan sesuatu yang belum tentu benar.

Tepat apa yang dikatakan oleh Asy-Syathibiy dalam kitab Al-Muwafaqat: “Jika seorang wali diperlihatkan sesuatu dari perkara ghaib, maka hal itu bukan berbentuk sebuah ilmu pasti dan keyakinan tanpa sangsi, akan tetapi bersifat penglihatan dan perkiraan biasa, maka jika terjadi sesuai dengan kenyataan, maka pemberitaan-nya setelah terjadinya kenyataan itu bukan lagi merupakan suatu perkara yang ghaib…

Jadi yang mengetahui ilmu ghaib hanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dan Dia memberitahukan sebagian perkara ghaib kepada rasul-Nya yang Dia kehendaki melalui wahyu yang sudah mutlak benar. Sekalipun demikian tidak boleh dikatakan bahwa para rasul itu mengetahui ilmu ghaib, apalagi para wali yang hanya diberi ilham atau mimpi yang belum mutlak kebenarannya itu.

(Abu Hamzah As-Sanuwi)

Maraji’:
Risalah Asy-Syirku wa Madhahiruhu, Mubarak bin Muhammad Al-jiliy Al-Jazairi, hal. 126-136
Al-Fatawa Al-Haditsiyah, Ibnu Hajar Al-Haitamiy (311-313)
Tafsir Al-Qurthubi, 7/1-3
Mawaqif Ahlissunnah, Utsman Ali Hasan 59,71
Syawahidul Haq, Yusuf An-Nabhani, hal. 427, 428
Fathul Bari, Ibnu Hajar 8/291,514
Al-fikrush Shufi, Abd. Rahman Abd Kholiq 231 dan 632
Kifayatul At-Qiya wa Minhajul Asfiya’, As-Sayyid Bahri, hal. 27

Artikel Fatwa :

Hukum Meminta Bantuan Kepada Jin Untuk Mengetahui Perkara-perkara Ghaib
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Apa hukum Islam mengenai orang yang meminta bantuan kepada jin untuk mengetahui perkara-perkara ghaib? Apa hukum Islam tentang menghipnotis, yang dengannya kekuasaan peng-hipnotis untuk mempengaruhi orang yang dihipnotis menjadi kuat. Selanjutnya dia menguasainya dan membuatnya meninggalkan yang haram, menyembuhkan dari penyakit kejiwaan, atau melakukan pekerjaan yang diminta oleh penghipnotis? Apa pula hukum Islam tentang ucapan si polan: Bihaqqi fulan (dengan hak si fulan); apakah ini sumpah atau tidak? Berilah penjelasan kepada kami.

Jawaban:

Pertama, ilmu tentang perkara-perkara ghaib hanya dimiliki oleh Alloh secara khusus. Tidak ada seorang pun dari makhluknya yang mengetahuinya, baik jin maupun selainnya, kecuali apa yang Alloh wahyukan kepada siapa yang dikehendakiNya dari para malaikat atau rasul-rasulNya. Alloh Subhannahu wa Ta’ala berfirman,

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Alloh’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65).

Alloh Subhannahu wa Ta’ala berfirman mengenai NabiNya, Sulaiman Alaihissalam, dan jin yang ditundukkanNya untuknya,

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersung-kur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang meng-hinakan.” (Saba’: 14).

Dia berfirman,

“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27).

Diriwayatkan secara sah dari an-Nawwas bin Sam`an Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,
“Jika Alloh hendak mewahyukan suatu perkara Dia berfirman dengan wahyu, maka langit menjadi takut atau sangat gemetar karena takut kepada Alloh r. Jika ahli langit mendengar hal itu, maka jatuh dan bersungkur dalam keadaan bersujud kepada Alloh. Mula-mula yang mengangkat kepalanya adalah Jibril, lalu Alloh berbicara kepadanya dari wahyuNya tentang apa yang dikehen-dakiNya. Kemudian Jibril melintasi para malaikat. Setiap kali melewati suatu langit, maka para malaikat langit tersebut ber-tanya, ‘Apa yang difirmankan oleh Tuhan kami, wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Dia berfirman tentang kebenaran, dan Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.’ Lalu mereka semua mengucapkan seperti yang dikatakan Jibril. Lalu Jibril menyampaikan wahyu ke tempat yang diperintahkan Alloh kepadanya.'”

Dalam ash-Shahih dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, beliau bersabda,
“Jika Alloh memutuskan suatu perkara di langit, maka para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena tunduk kepada firmanNya, seolah-olah rantai di atas batu besar. Ketika telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, maka mereka bertanya, ‘Apakah yang difirman oleh Tuhan kalian.’ Mereka menjawab kepada yang bertanya, ‘Dia berfirman tentang kebenaran dan Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.’ Lalu pencuri pembicaraan (setan) mendengarkannya. Pencuri pembicaraan demikian, sebagian di atas sebagian yang lain -Sufyan menyifatinya dengan telapak tangannya lalu membalikkannya dan memisahkan di antara jari-jarinya-. Ia mendengar pembicaraan lalu menyampaikannya kepada siapa yang di bawahnya, kemudian yang lainnya menyampai-kannya kepada siapa yang di bawahnya, hingga ia menyampaikannya pada lisan tukang sihir atau dukun. Kadangkala ia mendapat lemparan bola api sebelum menyampaikannya. Kadangkala ia menyampaikannya sebelum mengetahuinya, lalu ia berdusta bersamanya dengan seratus kedustaan. Lalu dikatakan, ‘Bukankah ia telah berkata kepada kami demikian dan demimkian, demikian dan demikian.’ Lalu ia mempercayai kata-kata yang didengarnya dari langit.”

Atas dasar ini maka tidak boleh meminta bantuan kepada jin dan makhluk-makhluk selainnya untuk mengetahui perkara-perkara ghaib, baik berdoa kepada mereka, mendekatkan diri kepada mereka, membuat kemenyan, maupun selainnya. Bahkan, itu adalah kesyirikan, karena ini sejenis ibadah. Padahal Alloh telah memberi tahu kepada para hambaNya agar mengkhususkan peribadatan kepadaNya seraya mengikrarkan,

“Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.” (Al-Fatihah: 5).

Telah sah dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bahwa beliau bersabda kepada Ibnu Abbas,

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Jika kamu meminta, maka memintalah kepada Alloh dan jika kamu meminta pertolongan, maka memintalah pertolongan kepada Alloh.”

Kedua, hipnotis adalah salah satu jenis perdukunan dengan mempergunakan jin sehingga penghipnotis memberi kuasa kepa-danya atas orang yang dihipnotisnya. Ia berbicara lewat lisannya dan mendapatkan kekuatan darinya untuk melakukan suatu pekerjaan lewat penguasaan terhadapnya, jika jin tersebut jujur bersama penghipnotis itu. Ia mentaatinya sebagai imbalan “pengabdian” penghipnotis kepadanya. Lalu jin itu menjadikan orang yang dihipnotis tersebut mentaati kemauan penghipnotis terhadap segala yang diperintahkannya berupa pekerjaan-pekerjaan atau informasi-informasi lewat bantuan jinnya, jika jin itu jujur ber-sama si penghipnotis. Atas dasar itu maka menggunakan hipnotis sebagai sarana untuk menunjukkan tempat pencuri, barang yang hilang, menyembuhkan penyakit, atau melakukan aktifitas lainnya lewat jalan penghipnotis adalah tidak boleh bahkan kesyirikan, berdasarkan alasan yang telah disebutkan. Dan, karena itu berarti kembali kepada selain Alloh, dalam perkara yang diluar sebab-sebab biasa yang disediakan Alloh Subhannahu wa Ta’ala untuk para makhluk dan diperbolehkan untuk mereka.

Ketiga, ucapan seseorang: Bihaqqi fulan (demi/ dengan hak polan), mengandung makna sumpah. Maksudnya, aku bersum-pah kepadamu demi polan. Ba’ di sini adalah Ba’ al-Qasam (kata yang mengandung arti sumpah). Bisa juga mengandung makna tawassul dan meminta bantuan kepada diri fulan atau kedu-dukannya. Jadi, Ba’ ini untuk Isti`anah (meminta bantuan). Pada kedua hal ini, ucapan ini tidak boleh.

Adapun yang pertama, bersumpah kepada makhluk oleh makhluk adalah tidak boleh. Bersumpah kepada makhluk sangat dilarang oleh Alloh, bahkan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam menetapkan bahwa bersumpah kepada selain Alloh adalah syirik. Beliau bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa bersumpah kepada selain Alloh, maka ia telah syirik.” (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim; ia menilainya sebagai hadits shahih).

Adapun yang kedua, karena para sahabat tidak ber-tawassul kepada diri Nabi a dan tidak pula kepada kedu-dukannya semasa hidupnya dan sesudah kematiannya. Padahal mereka itu manusia yang paling tahu tentang maqam dan kedudukan beliau di sisi Alloh serta lebih tahu tentang syariat. Berbagai penderitaan telah mereka alami semasa hidup Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan setelah kematiannya, namun mereka kembali kepada Alloh dan berdoa kepadaNya. Seandainya bertawassul dengan diri atau kedudukan beliau Shalallaahu alaihi wasalam itu disyariatkan, niscaya beliau telah mengajarkan hal itu kepada mereka; karena beliau tidak meninggalkan suatu perkara untuk mendekatkan diri kepada Alloh melainkan beliau memerintahkannya dan memberi petunjuk kepadanya. Dan, niscaya mereka mengamalkannya karena me-reka sangat antusias mengamalkan apa yang disyariatkan kepada mereka, terutama pada saat mengalami kesulitan. Tiadanya kete-tapan izin dari beliau Shalallaahu alaihi wasalam mengenainya dan petunjuk kepadanya serta mereka tidak mengamalkannya adalah bukti bahwa itu tidak diperbolehkan.

Yang sah dari para sahabat , bahwa mereka bertawassul kepada Alloh dengan doa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam kepada Tuhannya agar permohonan mereka dikabulkan semasa hidupnya, seperti dalam Istisqa’ (meminta hujan) dan selainnya. Tatkala beliau telah wafat, Umar Radhiallaahu anhu ketika keluar untuk Istisqa’ mengatakan,

“Ya Alloh, dahulu kami bertawassul kepadaMu dengan Nabi kami lalu Engkau memberi hujan kepada kami. Dan sesungguhnya kami sekarang bertawassul kepadamu dengan paman Nabi kami, maka berilah kami hujan.”

Maka, mereka diberi hujan.
Maksudnya doa al-Abbas kepada Tuhannya serta permo-honannya kepadaNya, dan yang dimakud bukan bertawassul kepada kedudukan al-Abbas; karena kedudukan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam lebih besar dan lebih tinggi darinya. Kedudukan ini tetap berlaku untuknya sepeninggalnya sebagaimana semasa hidupnya. Sean-dainya tawassul tersebut yang dimaksudkan, niscaya mereka telah bertawassul dengan kedudukan Nabi a daripada bertawas-sul kepada al-Abbas. Tetapi, nyatanya, mereka tidak melakukannya. Kemudian, bertawassul kepada kedudukan para nabi dan semua orang shalih adalah salah satu sarana kesyirikan yang terdekat, sebagaimana yang ditunjukkan oleh fakta dan pengalaman. Oleh karenanya perbuatan ini dilarang untuk menutup jalan tersebut dan melindungi tauhid. Semoga shalawat dan salam senantiasa Alloh limpahkan atas Nabi kita, Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Majalah al-Buhuts al-Islamiyah, vol. 30, hal. 78-81, al-Lajnah ad-Da’imah.

DIarsipkan di bawah: buletin An Nur

Sumber: Yayasan Al-Sofwah